Minggu, 02 Desember 2012

cerpen dan puisi


  
 RUMAH YANG TERANG

Cerpen Ahmad Tohari

       Listrik sudah empat tahun masuk kampungku dan sudah banyak yang
dilakukannya. Kampung seperti mendampat injeksi tenaga baru yang
membuatnya menggeliat penuh gairah. Listrik memberi kampungku cahaya,
musik, es, sampai api dan angin. Di kampungku, listrik juga membunuh
bulan di langit. Bulan tidak lagi menarik hati anak-anak. Bulan tidak lagi
mampu membuat bayang-bayang pepohonan. Tapi kampung tidak merasa
kehilangan bulan. Juga tidak merasa kehilangan tiga laki-laki yang tersengat
listrik hingga mati.
Sebuah tiang lampu tertancap di depan rumahku. Seperti semasa
teman-temannya sesama tiang listrik yang membawa perubahan pada rumah
yang terdekat, demikian halnya beton langsing yang menyangga kabel-kabel
di depan rumahku itu. Bedanya, yang dibawa ke rumahku adalah celotehceloteh
sengit dua tetangga di belakang rumahku.
Sampai sekian lama, rumahku tetap gelap. Ayahku tidak mau pasang
listrik. Inilah yang membuat tetangga di belakang rumah jengkel terusterusan.
Keduanya sangat berhasrat menjadi pelanggan listrik. Tapi hasrat
mereka tak mungkin terlaksana sebelum ada dakstang di bubungan rumahku.
Rumah dua tetangga di belakang itu terlalu jauh dari tiang.
Kampungku yang punya kegemaran berceloteh seperti mendapat jalan
buat berkata seenaknya terhadap ayah. Tentu saja dua tetangga itulah
sumbernya. “Haji Bakir itu seharusnya berganti nama menjadi Haji Bakhil.
Dia kaya tetapi tak mau pasang listrik. Tentu saja dia kawatir akan keluar
banyak duit.”
Kadang celoteh yang sampai di telingaku sedemikian tajam sehingga
aku tak kuat lagi menerimanya. Mereka mengatakan ayahku memelihara
tuyul. “Tentu saja Haji Bakir tak mau pasang listrik karena tuyul tidak suka
cahaya terang.” Yang terakhir kedua tetangga itu merencanakan tindakan
yang lebih jauh. Entah belajar dari mana mereka menuduh ayahku telah
melanggar asas kepentingan umum. Mereka menyamakan ayahku dengan
orang yang tidak mau menyediakan jalan bagi seseorang yang bertempat
tinggal di tanah yang terkurung. Konon mereka akan mengadukan ayahku
kepada lurah.
Aku sendiri bukan tidak punya masalah dengan sikap ayah. Pertama,
akulah yang lebih banyak menjadi bulan-bulanan celoteh yang kian meluas
di kampungku. Ini sungguh tidak nyaman. Kedua, gajiku sebagai propagandis
pemakaian alat kontrasepsi memungkinkan aku punya radio, pemutar pita
rekaman, juga TV (karena aku masih bujangan). Maka alangkah konyolnya
sementar listrik ditawarkan sampai ke depan rumah, aku masih harus repot
dengan setiap kali membeli baterei dan nyetrum aki.
Ketika belun tahu latar belakang sikap ayah, aku sering membujuk.
Lho, kenapa aku dan ayah tidak ikut beramai-ramai bersama orang
sekampung membunuh bulan? Pernah kukatakan, apabila ayah enggan
mengeluarkan uang maka pasal memasang listrik akulah yang menanggung
biayanya. Karena kata-kataku ini ayah tersinggung. Tasbih di tangan ayah
yang selalu berdecik tiba-tiba berhenti.
“Jadi kamu seperti orang-orang yang mengatakan aku bakhil dan
pelihara tuyul?”
Aku menyesal. Tapi tak mengapa karena kemudian ayah mengatakan
alasan yang sebenarnya mengapa beliau tidak mau pasang listrik. Dan alasan
itu tak mungkin kukatakan kepada siapa pun, khawatir hanya mengundang
celoteh yang lebih menyakitkan. Aku tak rela ayah mendapat cercaan lebih
banyak.
Betapa juga ayah adalah orang tuaku, yang membiayai sekolahku
sehingga aku kini adalah seorang propagandis pemakaian alat kontrasepsi.
Lalu mengapa orang kurang menghayati status yang kini kumiliki. Menjadi
propagandis tersebut tidak hanya membawa keuntungan materi berupa gaji
dan insentif melainkan ada lagi yang lain.
Jadi, aku mengalah pada keteguhan sikap ayah. Rela setiap kali beli
baterai dan nyetrum aki, dan rela menerima celoteh orang sekampung yang
tiada hentinya.
Ketika ayah sakit, beliau tidak mau dirawat di rumah sakit. Keadaan
beliau makin hari makin serius. Tapi beliau bersiteguh tak mau diopname.
Aku berusaha menyingkirkan perkara yang kukira menyebabkan ayah tak
mau masuk rumah sakit.
“Apakah ayah khawatir di rumah sakit nanti ayah akan dirawat dalam
ruang yang diterangi lampu listrik? Bila demikian halnya maka akan
kuusahakan agar mereka menyalakan lilin saja khusus bagi ayah.
Tanggapan ayah ada rasa tersinggung yang terpancar dari mata beliau
yang sudah biru memucat. Ya, Tuhan, lagi-lagi aku menyesal. Dan jiwaku
mendadak buntu ketika mendengar ucapan ayah yang keluar tersendatsendat.
“Sudahlah, Nak. Kamu lihat sendiri aku hampir mati. Sepeninggalku
nanti kamu bisa secepatnya memasang listrik di rumah ini.
Tidak pernah sekalipun aku mendengar kata-kata ayah yang
mengandung ironi demikian tajam. Sesalku tak habis-habisnya. Dan malu.
Kewahlianku melakukan pendekatan verbal yang biasa aku lakukan selama
menjadi propagandis alat kontrasepsi ternyata hanya punya arti negatif di
hadapan ayah. Lebih malu lagi karena ucapan ayah tadi adalah kata-kata
terakhir yang ditujukan kepadaku.
Seratus hari sudah kematian ayah orang-orang bertahlil di rumahku
sudah duduk di bawah lampu neon dua puluh watt. Mereka memandangi
lampu dan tersenyum. Dua tetangga belakang yang tentu saja sudah pasang
listrik mendekatiku.
“Nah, lebih enak dengan listrik, ya Mas?”
Aku diam karena sebal melihat gaya mereka yang pasti menghubunghubungkan
pemasangan listrik di rumahku yang baru bisa terlaksana sesudah
kematian ayah. Oh, mereka tidak tahu bahwa aku sendiri menjadi linglung.
Listrik memang sudah kupasang tapi aku justru takut menghidupkan radio,
TV, dan pemutar pita rekaman. Sore hari aku tak pernah berbuat apa pun
sampai ibu yang menghidupkan lampu. Aku enggan menjamah sakelar
karena setiap kali aku melakukan hal itu tiba-tiba bayangan ayah muncul
dan kudengar keletak-keletik suara tasbihnya.
Linglung. Maka tiba-tiba mulutku nyerocos. Kepada tamu yang
bertahlil aku mengatakan alasan yang sebenarnya mengapa ayahku tidak
suka listrik, suatu hal yang seharusnya tetap kusimpan.
“Ayahku memang tidak suka listrik. Beliau punya keyakinan hidup
dengan listrik akan mengundang keborosan cahaya. Apabila cahaya
dihabiskan semasa hidupnya maka ayahku khawatir tidak ada lagi cahaya
bagi beliau di dalam kubur”.
Aku siap menerima celoteh dan olok-olok yang mungkin akan
dilontarkan para tamu. Karena aku sendiri pernah menertawakan pikiran
ayah yang antik itu. Aneh, para tamu malah menunduk. Aku juga menunduk,
sambil berdoa tanpa sedikitpun kadar olok-olok. Kiranya ayahnya mendapat
cukup cahaya di alam sana.
(Berkenalan Dengan Prosa Fiksi, 2000: 213-217)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar